Pembuatan dan Pemanfaatan Bioetanol dari Bahan Singkong
12/04/2016

Kebutuhan akan energi terutama bahan bakar fosil semakin besar, akan tetapi peningkatan kebutuhan tidak sejalan dengan ketersedian bahan bakar fosil itu sendiri. Fakultas Pertanian  Universitas Palangkaraya (Faperta Unpar) berusaha untuk ikut mengatasi permasalahan tersebut dengan mengembangkan pembuatan dan pemanfaatan bioetanol dari bahan singkong. Pemerintah Kabupaten Katingan dalam hal ini Dinas Pertambangan dan Energi beserta instansi terkait dan beberapa camat  berkesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan pembuatan bioetanol dari bahan baku singkong, 4-6 April 2016 yang digelar di aula Faperta unpar dan pabrik pembuatan bioetanol milik Prof. Muhammad Saleh .

Kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian Unpar Cakra Birawa tersebut diisi oleh pemateri dari Distamben provinsi Kalteng, Dinas Pertanian Provinsi Kalteng dan akademisi dari Universitas Palangkaraya. Kepala Bidang Listrik dan Pemanfatan Energi Tomas Sembiring dalam paparannya mengatakan bahwa penyediaan bioetanol bisa menjadi alternatif sumber energi dalam mendukung "Kalteng Tarang" sehingga diharapkan masalah krisis energi listrik di pedalaman kalteng yang belum terjangkau aliran listrik dapat sedikit teratasi oleh adanya energi alternatif ini.

Ketua panitia pelaksana Muhammad Saleh mengatakan bahwa melalui kegiatan ini peserta diharapkan memahami cara pengolahan dan pemanfaatan bioetanol dari bahan baku singkong, sehingga bisa mengembangkannya di daerah masing-masing. adapun kelebihannya dari bioetanol ini adalah kompor bioetanol lebih ekonomis dalam penggunaan bahan bakarnya dari pada kompor minyak tanah yang sekarang ketersediaanya semakin sulit diperoleh di pasaran dan disamping itu resiko juga minim karena kompor bioetanol tidak bisa meledak. Menurut Muhaammad Saleh kendala yang dihadapi sekarang adalah ketersediaan bahan baku singkong dari para petani yang belum berani membudidayakan singkong dalam skala besar, lantaran khawatir saat pemasaran tidak ada pihak yang menampung atau membeli.

Kendala lain lanjut Muhammad Saleh adalah menyangkut perangkat kompor bioetanol untuk memasak harus didesain dan menggunakan bahan khusus untuk menghindari karat karena sifat bioetanol yang seperti air. untuk memperoleh kompor juga harus dipesan terlebuh dahulu di Surabaya atau di Bandung dengan harga yang bervariasi berkisar 350-450 rb. Bahan baku singkong yang dipakai dapat berupa singkong lokal, jenis kristal maupun singkong karet, yang mana perbandingan penggunaan bahan baku singkong lokal untuk mendapatkan 1 liter bioetanol diperlukan 6 kg, untuk singkong kristal 5 kg dan singkong karet 4 kg.

Dari diklat pembuatan dan pemanfaatan bioetanol dari bahan singkong diharapkan dapat menjadi salah satu prioritas pengembangan di daerah untuk mengatasi krisis energi yang telah lama menjadi kendala di masing-masing daerah terutama di Kabupaten Katingan secara khususnya. (KRD)