Data Potensi

GEOLOGI DAN POTENSI SUMBER DAYA MINERAL

I.  GEOLOGI REGIONAL

Kondisi geologi umum daerah Kabupaten Katingan dapat dilihat pada lampiran yang merupakan rangkuman dari Peta Geologi Lembar Kuala Pembuang (Soetrisno dkk., 1995), Peta Geologi Lembar Palangka Raya (Nila, E.S, Rustandi, E. dan Heryanto, R., 1995), Peta Geologi Lembar Tewah (Sumartadipura, A.S. & Margono, U., 1996), Peta Geologi Lembar Tumbang Hiran (Margono, U., Sujitno, T. dan Santoso, T., 1995), Peta Geologi Lembar Tumbang Manjul (Margono, U., Soejitno, T. & Santoso, T., 1995) dan Peta Geologi Lembar Nanga Pinoh (Amiruddin & Trail, D. S., 1993).

I. 1.    Fisiografi

     Secara fisiografis daerah Kabupaten Katingan dikelompokan menjadi tujuh zona fisiografi, yaitu : zona pegunungan / perbukitan, batuan intrusi dan endapan masam; dataran rendah, batuan endapan pantai; dataran rendah, endapan pantai; dataran rendah, endapan sungai dan backswamps; dome gambut; pulau dan danau. Pembagian zona fisiografis daerah Kabupaten Katingan dapat dilihat pada gambar 1. Dari Pembagian Stratigrafi yang ada di Kabupaten Katingan dapat kita ketahui bahwa daerah Utara Kabupaten Katingan di dominasi oleh zona pegunungan/perbukitan yang tersusun oleh batuan intrusi dan endapan masam, semakin ke Selatan  di dominasi oleh dataran rendah berupa dome gambut, endapan sungai dan backswamp.

  Gambar  1.  Peta Fisiografi Kabupaten Katingan

I.2.     Stratigrafi

Daerah Kabupaten Katingan terbentuk oleh Batuan Malihan Pinoh, Formasi Kuayan, Tonalik Sepauk, Granit Sukadana, Batuan Gunung api Kerabai, Granit, Basal, Formasi Mentemoi, Batuan Gunung api Malasan, Batuan Terobosan Sintang,  Formasi Warukin, Formasi Dahor, Formasi Pembuang, Endapan Klastika, Endapan Rawa, Endapan Sungai, Endapan Pantai dan Aluvium. Stratigrafi daerah Kabupaten Katingan dari yang tertua  sampai termuda adalah sebagai berikut :

  •  Batuan Malihan Pinoh

Batuan Malihan Pinoh yang terdiri dari fillit, sekis, kuarsit dan genes. Secara umum foliasinya berarah baratdaya - timur laut (NE-SW). Secara umum batuan malihan berasal dari batulumpur. Proses hidrotermal pneumatolit mempengaruhi satuan ini, di beberapa tempat menghasilkan endapan logam dasar. Batuan ini diduga berumur Permo-Karbon. Di daerah Kabupaten Katingan batuan ini tersingkap di bagian baratlaut.

  • Formasi Kuayan

Formasi Kuayan terdiri dari breksi dengan komposisi andesit dan basal, aliran lava, batupasir tufaan dan tuff. Formasi ini tidak dapat ditentukan umurnya, tetapi di Kalimantan Barat, Van Emmichoven (1939) op.cit. Margono, U. dkk. (1995) menemukan fosil berumur Trias. Di daerah Kabupaten Katingan formasi ini tersingkap setempat di sebelah barat daerah  Tumbang Samba.

  • Batuan Tonalit Sepauk

Pada Kala Kapur Atas terbentuk batuan Tonalik Sepauk yang merupakan batuan granitan dengan tekstur merata, berkomposisi diorit, tonalit, granodiorit sampai monzonit. Kontak terobosan antara batuan pluton granitan dengan batuan leleran yang bersusunan menengah  terdapat di sekitar Buntut Nusa, hulu S. Mentaya. Proses piritisasi juga terjadi di beberapa tempat, urat kuarsa dengan tebal beberapa mm sampai beberapa cm berhubungan erat dengan terjadinya endapan logam dasar di daerah ini. Batuan Tonalik Sepauk diendapkan secara luas di bagian utara Kabupaten Katingan.

  • Granit Sukadana

Granit Sukadana merupakan batuan yang terdiri dari monzonit kuarsa, monzogranit, sienogranit dan granit alkali fekspar, sedikit sienit kuarsa, monzodiorit kuarsa dan diorit kuarsa. Satuan ini menerobos dan secara termal memalihkan Malihan Pinoh, menindih Batuan Gunung api Kerabai. Granit Sukadana diduga diendapkan pada Kala Kapur Atas. Granit Sukadana tersingkap sangat kecil di bagian baratlaut Kabupaten Katingan berbatasan dengan Kabupaten Seruyan.

  • Batuan Gunung api Kerabai

Di bagian barat laut Kabupaten Katingan yang berbatasan dengan Kabupaten Seruyan dan Kabupaten Kotawaringin Timur setempat terdapat Batuan Gunungapi Kerabai yang diduga berumur Kapur Atas. Batuan tersebut terdiri dari lava andesit , lava dasit dan riolit yang sebagian tak terpisahkan dari batuan piroklastik (abu, lapili, tuf hablur dan selaan; breksi gunug api dan aglomerat).

  • Granit

Di sekitar daerah Gunung Cinta birahi Granit (bagian selatan Kabupaten Katingan) terdapat granit yang  merupakan batuan plutonik dengan komposisi granit-granodiorit, berwarna putih berbintik hitam, kasat mata, berhablur penuh, berbutir menengah, hipidiomorf. Mineral penyusunnya terdiri dari orthoklas, kuarsa, plagioklas dan hornblenda serta sedikit biotit. Batuan granit ini diduga  terbentuk pada Kala Kapur Akhir.

  • Basal

Di sekitar hulu sungai Bukni (bagian timur daerah Baun Bango) terdapat Basal yang berumur Eosen – Oligosen dengan kenampakan warna kelabu kehijauan, berhablur penuh berbutir tak sama, halus-sedang, porfiritik dengan massa sulung plagioklas dan piroksen. Di beberapa tempat memperlihatkan struktur diabas dan ada juga berkomposisi andesit piroksen. Gejala ubahan tampak dengan adanya klorit dan mineral lempung. Batuan ini diduga menerobos batuan granit (Kapur Akhir).

  • Formasi Mentemoi

Di Kabupaten Katingan terdapat di sebelah barat daerah Tumbang Samba dan di bagian utara yang berbatasan dengan Kalimantan Barat dan Kabupaten Kapuas. Formasi ini  di bagian bawah dikuasai oleh batupasir, sedangkan di bagian atas batupasir  arkosa berbutir halus-kasar, kemerahan, terdapat struktur silang siur dan gelembur gelombang.  Setempat terdapat sisipan konglomerat kuarsa dan batulempung yang kadang-kadang mengandung batubara. Komponen konglomerat umumnya berupa kuarsa, berdiameter 0,5 – 10 cm. Formasi ini diendapkan pada Kala Eosen-Oligosen dalam  lingkungan pengendapan litoral, setempat berupa rawa-rawa.

  • Batuan Gunung api Malasan

Batuan Gunung api Malasan terdiri dari breksi gunung api, tuf, aglomerat dan lava andesit. Komponen breksi umumnya endesit dan dasit berukuran beberapa cm – 100 cm. Aliran lava umumnya  berkomposisi andesit horblende. Batuan Gunung api Malasan diduga berumur Miosen Awal, diendapkan pada lingkungan litoral. Batuan ini terdapat di sebelah timur daerah Tumbang Hiran.

  • Batuan Terobosan Sintang

Batuan Terobosan Sintang merupakan batuan terobosan berkomposisi andesit dan basal terdapat sebagai retas dengan ketebalan 50 cm sampai 4 m dan sebagai badan terobosan dengan ukuran garis tengah beberapa km. Terobosan ini dinasabahkan dengan kegiatan Gunung api Sintang pada Jaman Tersier.  Batuan ini terdapat setempat-setempat di bagian utara Kabupaten Katingan.

  • Formasi Warukin

Formasi Warukin terdiri dari batupasir, batupasir tufaan, batupasir gampingan, batulanau dan batulempung.  Di beberapa tempat  terdapat konglomerat  berlapis silang siur dan sisipan batugamping. Lapisan batubara dengan ketebalan 0,3 sampai 2 meter terdapat di dalam lapisan batupasir. Di daerah formasi ini mengandung bahan gunung api dan kearah utara kandungannya semakin banyak. Sisipan batugamping koral berwarna putih dan kekuning-kuningan dengan ketebalan kira-kira 10 sampai 15 meter, terdapat di bagian bawah satuan ini. Formasi Warukin diduga berumur Miosen.

  • Formasi Dahor

Formasi Dahor menempati sebagian besar daerah bagian tengah-selatan Kabupaten Katingan. Formasi Dahor terdiri dari konglomerat berselingan dengan batupasir. Konglomerat, warna coklat kehitaman, agak padat, komponen terdiri dari fragmen kuarsit dan basal, berukuran 1 sampai 3 cm, kemas terbuka dengan matriks berukuran pasir. Batupasir berwarna kekuningan sampai kelabu, berbutir sedang sampai kasar, setempat berstruktur sedimen silang siur. Batulempung warna kelabu, agak lunak, karbonan setempat mengandung lignit, tersingkap sebagai sisipan dalam batupasir dengan ketebalan 20 – 60 cm. Formasi Dahor diperkirakan mempunyai ketebalan 300 m, berumur Miosen Tengah-Plistosen diendapkan di lingkungan Paralik.

  • Formasi Pembuang

Di bagian selatan Kabupaten Katingan (sebelah timur daerah Mendawai) terdapat batuan Formasi Pembuang yang berumur Pleistosen Akhir. Formasi ini terdiri dari batupasir karbonatan, konglomerat, lanau, lempung dan gambut. Batupasir karbonan berbutir kasar-sedang, berkomposisi kuarsa, K, felspar, karbon dan biotit. Konglomerat aneka bahan, terutama kuarsa, kalsit dan batupasir. Batupasir kurang kompak berbutir halus-sedang. Batulanau dan lempung kelabu berlapis baik.  Formasi ini diendapkan dalam lingkungan delta berkembang yang meliputi tiga kali siklus pengendapan.

  • Endapan Klastika

Pada Kala Holosen di daerah Kabupaten Katingan diendapkan Endapan Klastika, Endapan Rawa, Endapan Sungai, Endapan Pantai dan Aluvium. Endapan Klastika terdiri dari pasir, lanau, lempung dan gambut. Pasir berbutir kasar-halus umumnya terdiri dari kuarsa, felsfar dan biotit, berwarna coklat terang, tidak berlapis, setempat dijumpai komponen konglomerat. Lanau berwarna kelabu terang tidak kompak dan tidak berlapis. Lempung dan lumpur berwarna kelabu sangat lunak. Gambut berwarna hitam-coklat Di beberapa tempat endapan ini mirip atau sulit dibedakan dengan endapan permukaan lainnya.

  • Endapan Rawa

Endapan Rawa terdiri dari gambut, lanau, lempung dan lumpur. Gambut berwarna hitam coklat, tidak kompak, masih terlihat bekas tumbuhan. Lanau, lempung dan lumpur umumnya berwarna putih kecoklatan, banyak sisa organik darat.

  • Endapan Sungai

  Endapan Sungai terdiri dari kerakal/kerikil, pasir lanau, lempung dan lumpur mengandung sisa organik darat. Kerakal/kerikil dan pasir umumnya tidak kompak terdiri dari komponen batuan (batupasir/kuarsa/batubara) dan sisa tumbuhan. Lanau, lempung dan lumpur banyak dijumpai di daerah dekat muara sungai, tercampur dengan sisa tumbuhan halus, beberapa garis kelurusan yang hampir sejajar alur sungai menunjukkan pengaruh kegiatan sungai pada waktu banjir.

  • Endapan Pantai

  Endapan Pantai terdapat di bagian selatan Kabupaten Katingan, terdiri dari pasir, lanau dan sedikit lempung. Pasir kuarsa lepas, berwarna putih kekuningan, berbutir halus-sedang tak berlapis, setempat ditemukan sisa organik laut. Endapan ini membentuk morfologi gumuk pasir yang memanjang sejajar pantai, dengan tebal/tinggi bisa mencapai 2 meter.

  • Aluvium

Aluvium (Kuarter, Holosen) terdiri dari gambut berwarna coklat kehitaman (endapan rawa); pasir lepas berwarna kekuningan halus-kasar, tidak berlapis (endapan sungai); lempung kelabu kecoklatan, mengandung sisa tumbuhan, sangat lunak (daerah pasang surut); dan lempung kaolinan warna putih kekuningan, bersifat liat, tebal berkisar dari 50 – 100 m. Aluvium terdapat di sekitar Daerah Aliran Sungai Katingan dan anak-anak sungainya.

              Gambar  2 . Peta Geologi Kabupaten Katingan

 

II.  STRUKTUR GEOLOGI

Berdasarkan hasil pengamatan dari peta geologi, struktur geologi yang dapat dijumpai di wilayah Kabupaten Katingan adalah berupa sesar (patahan) dan kekar-kekar (fractures). Kenampakan struktur tersebut terutama dapat di jumpai di bagian utara wilayah Kabupaten Katingan, yaitu di sekitar Kecamatan Katingan Tengah, Sanaman Mantikei, Marikit dan Katingan Hulu. Di Kecamatan Katingan Tengah sekitar Desa Tumbang Hangei tampak adanya sesar yang melewati dan memotong Sungai Katingan dan Sungai Hangei. Kenampakan struktur tersebut juga direfleksikan oleh bentuk dan pola sungai yang menunjukkan kelurusan dan pembelokan. Demikian juga struktur sesar tersebut tampak di sekitar Tumbang Atei (Kecamatan Sanaman Mantikei) dan di sekitar Kecamatan Marikit. Adanya struktur sesar tersebut akan berperan juga dalam proses pembentuk mineral di daerah sekitarnya.

                 Gambar 3. Jalur Magmatig Kalimantan

 

III.   POTENSI KABUPATEN KATINGAN

Secara geologis, daerah Kabupaten Katingan sebagian besar tersusun atas batuan sedimen dan batuan beku. Hal ini memberikan kemungkinan adanya kandungan berbagai potensi pertambangan, khususnya sumberdaya mineral. Hingga saat ini, potensi pertambangan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga memberikan peluang seluas-luasnya bagi para investor.

N0.

JENIS BAHAN GALIAN

LOKASI KETERDAPATAN

FOTO

1.

BATUBARA

  • Kec. Tewang Sanggalang Garing di kelurahan pandahara
  • Kec. Katingant Tengah di desa Hangei
  • Kec. Pulau Malan di desa Tewang Karangan
  • Kec. Kamipang di sei kalaru besar dan kalaru kecil.
  • Kec. Tasik Payawan di Kalaru
  • Kec.  Marikit,
  • Kec.  Sanaman  Mantikei
  • Kec.  Petak Malai

 

 

2.

BATUAN BEKU

  • Kec. Katingan Hulu
  • Kec. Sanaman Mantikei
  • Kec. Marikit
  • Kec. Bukit Raya
  • Kec. Katingan Hilir di sekitar bukit batu Kasongan
  • Kec. Mendawai di Komplek Gunung Kaki

 

    

3.

PASIR KUARSA

  • Kec. Sanaman Mantikei di sekitar aliran sei samba
  • Kec. Katingan Hilir di sekitar bukit batu KasonganKec. Mendawai di Komplek Gunung Kaki

 

4.

ZIRKON

  • Kec. Katingan Hilir
  • Kec. Tewang Sangalang Garing
  • Kec. Pulau Malan
  • Kec. Katingan Tengah
  • Kec. Tasik Payawan
  • Kec. Kamipang    

     

    

5.

BATU MULIA

  • Kec. Sanaman Mantikei di desa Tumbang Atei
  • Kec. Katingan Hulu di desa Rantau Bahai

      

6.

 

  • Kec. Bukit Raya
  • Kec. Katingan Hulu
  • Kec. Marikit
  • Kec. Sanaman Mantikei
  • Kec. Katingan tengah
  • Kec. Pulau Malan
  • Kec. Tewang Sangalang Garing
  • Kec. Katingan   

 

   

 

  • EMAS
  • PERAK
  • Kec. Katingan Tengah
      
  • BESI DAN TEMBAGA
  • Kec. Sanaman Mantikei di Tumbang Manggo
  • Kec. Katingan Tengah di Desa Mirah Kalanaman

   

 

  • BAUKSIT
  • Kec. Petak Malai